Suara Daun di Antara Desah Angin

 

Suara Daun di Antara Desah Angin

Suara Daun di Antara Desah Angin


Malam itu langit seperti kain hitam yang disulam bintang. Udara dingin turun perlahan, membawa aroma tanah yang baru disapa angin. Di tengah hamparan halaman yang sunyi, Sinta berdiri, menatap jauh ke arah langit yang tidak sepenuhnya gelap.

Rambutnya sedikit terurai dari jilbab yang mulai longgar, tertiup angin yang berdesir dari arah pepohonan. Setiap desiran seolah membawa suara halus — seperti seseorang yang berbisik jauh di antara daun-daun yang bergoyang.

Jeffri datang tanpa suara. Langkahnya pelan, hanya terdengar ketika kakinya menginjak ranting kering. Sinta tak menoleh, tapi ia tahu, tanpa harus melihat, bahwa lelaki itu berdiri tak jauh darinya.

“Kau masih suka diam di sini?” suara Jeffri pecah dalam tenang malam.

“Tempat ini tak pernah benar-benar sepi,” jawab Sinta lirih. “Angin selalu bicara, meski tak semua orang mau mendengarkan.”

Jeffri tersenyum samar. Angin kembali berdesir, kali ini membawa wangi bunga kamboja dari pekarangan belakang. Daun-daun bergerak, menimbulkan suara lembut seperti helaan napas panjang.

Keduanya diam. Suara daun, desir angin, dan jantung yang berdetak — tiga hal itu terasa seirama.

“Aku selalu heran,” kata Jeffri akhirnya, “mengapa setiap kali aku datang, kau selalu menatap langit.”

“Karena di langit, tidak ada dinding,” jawab Sinta. “Tak ada yang membatasi pandangan, juga tak ada yang melarang untuk rindu.”

Jeffri terdiam. Kalimat itu menggetarkan lebih dari angin malam. Ia melangkah sedikit lebih dekat, tapi menahan diri sebelum bayangan mereka bersentuhan.

Sinta memejamkan mata sejenak, merasakan hawa dingin menelusup di antara kain dan kulit. Namun di balik dingin itu, ada sesuatu yang hangat — bukan dari udara, tapi dari keberadaan Jeffri di dekatnya.

“Sinta,” ucap Jeffri perlahan, “aku takut rindu ini tidak lagi bisa kusembunyikan.”

Sinta membuka mata, menatapnya dari jarak yang cukup untuk mengingat, tapi terlalu jauh untuk menyentuh. “Rindu tidak perlu disembunyikan,” katanya tenang, “asal tidak menyalahi arah doa.”

Jeffri menunduk. Angin kembali berhembus, kali ini lebih kuat. Daun-daun menari liar, seperti sedang menutupi percakapan yang terlalu jujur.

“Kau selalu bisa berkata dengan tenang,” katanya lirih.
“Kalau tidak tenang,” balas Sinta, “rindu akan menjadi bising.”

Sekilas, cahaya bulan menembus celah awan, jatuh di wajah Sinta. Jeffri terpaku. Dalam diam, ia seperti melihat segala yang pernah ia tahan: perasaan, keinginan, dan kerinduan yang terlalu lama tak diberi nama.

Ia ingin bicara, tapi kata-kata seolah tak punya tempat di antara mereka. Maka yang tersisa hanya napas — napas yang berpadu dengan suara daun dan desah angin.

Malam makin larut. Embun mulai turun, membasahi rerumputan. Sinta melangkah perlahan ke arah pohon jambu di ujung halaman, tempat mereka dulu sering berteduh dari hujan. Jeffri mengikutinya.

“Ingat malam itu?” tanya Sinta pelan. “Ketika kita berlindung di sini, dan kau bilang hujan punya suara paling jujur?”

“Aku masih percaya itu,” kata Jeffri. “Hujan, daun, angin… mereka selalu tahu sesuatu yang tidak bisa kita ucapkan.”

Sinta tersenyum kecil. Ia menyentuh batang pohon yang lembap, seolah menyentuh masa lalu.

“Kalau begitu,” bisiknya, “biarkan malam ini menjadi rahasia mereka.”

Jeffri menatapnya lama. Ia ingin mengatakan sesuatu — tentang betapa sulitnya menahan jarak, tentang bagaimana setiap hembusan angin malam terasa seperti panggilan yang tak bisa diabaikan. Tapi lagi-lagi, ia diam.

Sinta menunduk. Dalam keheningan itu, ia tahu mereka sama-sama memendam hal yang tak bisa diucapkan. Hasrat bukan hanya tentang tubuh, tapi tentang kedekatan dua jiwa yang tahu batas namun tetap saling mencari.

“Jeffri,” kata Sinta perlahan, “kadang aku ingin waktu berhenti di sini.”

“Supaya apa?”

“Supaya angin tak perlu membawa namamu pergi.”

Jeffri menatap tanah, lalu langit. Ia tahu, malam akan berganti, dan mereka akan kembali menjadi dua orang yang menahan perasaan masing-masing. Tapi malam ini — di antara suara daun dan desah angin — mereka diizinkan untuk tidak berpura-pura kuat.

Sinta menatap ke arah bintang yang mulai redup.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari rindu?” tanyanya pelan.

“Apa?”

“Ketika Tuhan sendiri seolah ingin menguji seberapa lama kita bisa menahannya.”

Jeffri menarik napas dalam. “Mungkin karena Tuhan tahu, cinta yang menunggu dengan sabar tidak akan sia-sia.”

Sinta tersenyum tipis. Angin kembali lewat, menyentuh wajah mereka dengan lembut. Kali ini lebih hangat, seolah alam pun paham bahwa cinta kadang hanya butuh didengar, bukan diucap.

Malam pun menutup dirinya perlahan. Di bawah langit yang luas, dua bayangan itu berdiri tanpa kata — hanya ditemani suara daun yang terus berdesir, mengisyaratkan bahwa rindu tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk: menjadi udara, menjadi angin, menjadi bisik yang lembut di antara hati yang saling menunggu.

Dan ketika Jeffri akhirnya beranjak, Sinta menatap punggungnya hingga hilang di tikungan halaman. Ia menarik napas panjang, lalu berbisik ke arah langit:

“Jika nanti angin menyapamu, biarkan ia membawa salamku. Karena di antara suara daun, selalu ada namamu.”