Sisa Wangi di Bantal Putih

 

Sisa Wangi di Bantal Putih

Malam itu sunyi, seolah menahan napas bersama dada Sinta yang naik turun perlahan. Di luar jendela, hujan turun pelan, menimpa genting dengan irama yang ritmis — seperti denting hati yang tak mampu diam.

Di kamar sederhana itu, lampu kuning temaram menyoroti sisi wajahnya yang lembut. Ada sisa wangi melati di udara — samar, tapi memabukkan. Bantal di sampingnya masih menyimpan bentuk kepala seseorang yang sempat berbaring di situ. Jeffri.

Sinta menatap bantal itu lama, matanya tak berpaling, seperti mencoba memungut kembali potongan waktu yang tadi sempat terlepas di sana.
Ia memejamkan mata, mengingat detik-detik sebelum lelaki itu pergi — langkah pelan, suara pintu yang tertutup, dan aroma tubuhnya yang masih menggantung di udara, lebih lama dari kata perpisahan itu sendiri.

“Kau tahu,” kata Jeffri sebelum pergi, suaranya serak, “setiap kali aku berpaling, rasanya sebagian diriku tertinggal di sini.”

Sinta tidak menjawab. Ia hanya tersenyum samar, senyum yang menyembunyikan ribuan doa, ribuan rindu yang tak sempat diucap.

Ia memeluk bantal itu perlahan.
Di sana, masih ada sisa hangat tubuh Jeffri. Mungkin hanya imajinasi, mungkin hanya keinginan yang enggan padam. Tapi bagi Sinta, kehangatan itu nyata — sama nyatanya dengan degup jantungnya sendiri yang semakin tak teratur.

Suara hujan makin deras. Wangi hujan bercampur dengan wangi tubuh Jeffri yang masih tersisa di bantal. Sinta menarik napas panjang, dalam sekali, seperti seseorang yang berusaha menahan sesuatu agar tak pecah di dalam dada.

Ia bangkit perlahan dan berjalan ke jendela. Di luar sana, lampu jalan menyorot genangan air yang berkilau. Dunia tampak basah dan tenang, tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus bergolak.

“Jeffri…” bisiknya, hampir tak terdengar. “Mengapa setiap pertemuan selalu berakhir dengan keheningan seperti ini?”

Udara malam menyelinap melalui celah jendela, menyentuh kulitnya lembut seperti sentuhan terakhir yang tak sempat diucapkan.
Sinta menutup matanya lagi. Dalam diam itu, bayangan Jeffri muncul — cara dia menatap, cara dia berbicara, cara dia diam di antara dua tarikan napas. Semua begitu dekat, seolah waktu belum benar-benar memisahkan mereka.

Sinta tersenyum getir. “Aku masih bisa mencium wangimu, Jeffri,” gumamnya lirih.
Wangi itu menempel pada seprai, pada udara, pada dirinya sendiri. Seolah cinta itu menolak pergi, meski jarak sudah memaksanya diam.

Malam semakin larut. Hujan mulai reda. Sinta berbaring kembali, menatap langit-langit kamar.
Di sana, bayangan masa lalu menari-nari samar — dua orang yang tertawa kecil di bawah cahaya lampu, tangan mereka saling mencari, bukan untuk memiliki, tapi untuk mengingat bahwa mereka pernah bersama.

Sinta tahu, besok pagi semuanya akan terasa biasa. Bantal itu hanya akan jadi bantal, udara hanya akan jadi udara. Tapi malam ini, untuk sekali lagi, ia ingin membiarkan dirinya hanyut dalam sisa wangi yang tertinggal —
wangi yang bukan sekadar milik tubuh, tapi milik kenangan, doa, dan rindu yang tak pernah selesai.

Ia menarik selimut pelan, menutup separuh wajahnya. Bibirnya bergerak kecil, mengucap doa yang nyaris tak bersuara:

“Semoga Tuhan menjagamu di mana pun, Jeffri. Karena aku masih menjagamu… di dalam setiap napasku.”

Dan di antara keheningan itu, bantal putih di sisinya seolah menyimpan rahasia yang tak akan pernah benar-benar hilang —
sisa wangi yang menjadi saksi,
bahwa cinta kadang tidak harus dimiliki,
cukup diingat, dan dirasakan…
dalam diam yang lembut.