Sisa Wangi di Bantal Putih

 

Sisa Wangi di Bantal Putih

Pagi datang perlahan di rumah yang tak lagi bersuara. Hanya suara kipas angin tua berputar malas di langit-langit, menyebarkan udara lembab bercampur wangi yang tak pernah benar-benar hilang. Sinta duduk di tepi ranjang, menatap bantal putih di mana bayangan Jeffri seolah masih tertinggal. Di situ, di lipatan kain yang halus, ada aroma samar tubuh lelaki itu — wangi sabun, kopi hitam, dan sedikit peluh dari malam yang lama.

Ia mengusap perlahan ujung bantal itu, seperti membelai kenangan yang tak ingin pergi. Setiap serat kain seakan bercerita: tentang tawa kecil sebelum tidur, tentang bisikan lembut di antara kantuk, tentang bagaimana Jeffri selalu menarik selimut menutupi pundaknya ketika udara dini hari menggigit.
Kini, semua itu tinggal diam.
Hanya wangi yang tak lekang — sisa yang menolak pergi.

Sinta menunduk, membiarkan jemarinya menyentuh lipatan sprei yang sudah dingin. “Jeff…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. Udara menahan napas. Ia menatap jendela; sinar pagi menyelinap masuk di antara tirai tipis, menari pelan di permukaan ranjang. Ada cahaya di sana — lembut, kekuningan, seolah mengerti sepi yang sedang berdiam di dada.

Ia berjalan pelan ke dapur, menyalakan pemanas air. Dua cangkir disiapkan — satu untuk dirinya, satu lagi… hanya karena kebiasaan.
Kebiasaan yang belum bisa ia tinggalkan.
Air mendidih, menghembuskan uap yang membawa kembali memori: Jeffri tertawa di pagi hari, memegang cangkir yang sama, menggoda Sinta dengan kalimat sederhana,

“Kalau kopinya manis, berarti kamu yang buat.”

Sinta tersenyum kecil, tapi air matanya jatuh bersamaan dengan uap yang memudar. Ia kembali ke kamar, membawa dua cangkir — meletakkan satu di sisi ranjang yang kosong.
Dan saat itu, sesuatu berubah.
Udara di sekitarnya terasa berbeda — seperti ada seseorang yang duduk di ujung ranjang, tak bersuara tapi nyata.

“Sin…”
Suara itu.
Pelan, serak, tapi begitu akrab hingga napasnya tertahan. Ia menoleh cepat.
Jeffri ada di sana.

Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya teduh, senyum kecil tersungging di bibirnya — senyum yang Sinta pikir takkan pernah ia lihat lagi.
Cahaya pagi membias di kulitnya, membuatnya tampak setengah nyata, setengah cahaya.

Sinta terpaku. “Jeff… kamu?”

Jeffri hanya mengangguk pelan. Ia mengangkat cangkir kopi yang diletakkan Sinta tadi, menghembuskan uap hangat, lalu menatap Sinta seperti dulu — tatapan yang tidak butuh banyak kata.

“Aku kangen kamu,” katanya lirih.

Air mata Sinta mengalir tanpa bisa dicegah. Ia bangkit, berjalan perlahan mendekat. “Aku juga… setiap pagi, setiap malam…”
Suara Sinta bergetar, tapi ia tidak berhenti. Ia ingin menyentuhnya — memastikan bahwa ini bukan sekadar mimpi. Tangannya gemetar saat menyentuh bahu Jeffri, dan kehangatan itu benar-benar ada. Nyata.

Jeffri meraih tangannya, menggenggam lembut. “Aku selalu di sini,” katanya pelan. “Di setiap embun yang jatuh di jendela, di setiap wangi yang tertinggal di bantalmu.”

Sinta menunduk, bahunya bergetar. “Kenapa kamu datang lagi?”

Jeffri tersenyum. “Karena kamu belum bisa tidur tanpa aku.”

Keduanya diam. Udara pagi menyelimuti mereka, seolah waktu berhenti sejenak. Lalu Sinta membiarkan kepalanya bersandar di dada Jeffri. Jantungnya berdegup, terasa hidup lagi. Ia memejamkan mata — mendengar napasnya, merasakan detak yang perlahan menyatu.
Tak ada kata cinta, tak ada janji. Hanya keheningan yang manis, seperti awal dan akhir yang berpadu.

Di luar jendela, matahari naik perlahan. Cahaya mulai menghapus bayangan, dan wangi kopi bercampur udara pagi. Jeffri menunduk, mencium kening Sinta satu kali — lama, penuh makna.

“Kalau kamu bisa tersenyum lagi, aku tenang,” katanya pelan.

Sinta ingin menjawab, tapi Jeffri mulai memudar, seperti embun yang tersentuh cahaya. Ia menatapnya — tak ingin berkedip — namun dalam satu hembusan napas, Jeffri sudah tak ada.
Yang tersisa hanyalah hangat di bantal putih, dan wangi yang tak pernah hilang.

Sinta terdiam lama. Air matanya menetes, tapi bibirnya tersenyum kecil. Ia membenarkan letak bantal itu, menyentuhnya pelan, lalu berbaring menghadap sisi kosong ranjang.
“Terima kasih, Jeff…” bisiknya. “Kau pulang sebentar… itu sudah cukup.”

Angin masuk dari jendela, menyingkap tirai, membawa aroma yang familiar.
Wangi kopi, dan sedikit sabun — sama seperti dulu.

Sinta menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak kepergian itu, ia tidur dengan tenang.