Sentuhan yang Tak Selesai
Hujan turun perlahan di luar jendela kamar. Butirannya menempel di kaca, lalu meluncur seperti air mata yang tak ingin jatuh tapi tak punya pilihan lain. Sinta berdiri di sana, diam, menatap bayangan dirinya yang samar. Rambutnya diselipkan rapi di balik hijab abu muda yang mulai lembab oleh embun. Pakaian tidurnya panjang, lembut, namun membentuk siluet tubuh yang menyimpan rindu.
Di belakangnya, Jeffri duduk di tepi ranjang, menatap punggung Sinta seperti menatap kenangan yang enggan berpamitan.
“Masih dingin?” suaranya pelan, hampir tak terdengar di antara bunyi rintik hujan.
Sinta tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap kaca yang berembun, meninggalkan jejak jari yang gemetar.
“Dingin itu… bukan karena hujan, Jeff. Tapi karena kita nggak bisa saling memeluk seperti dulu.”
Jeffri berdiri perlahan. Langkahnya berat, tapi pasti. Ia mendekat, berhenti hanya sejengkal di belakang Sinta. Hanya udara tipis yang memisahkan tubuh mereka. Wangi samar tubuh Sinta, aroma sabun dan sisa parfum melati, mengisi ruang yang senyap.
“Aku masih di sini,” ucap Jeffri, suaranya retak.
Sinta tersenyum getir, “Kau di sini, tapi juga tidak. Kau tahu rasanya, kan? Ketika seseorang ada di depan mata tapi tak bisa disentuh.”
Jeffri menutup mata sejenak. Ia mengangkat tangannya, hampir menyentuh pundak Sinta—namun berhenti di udara. Jarak sekecil itu terasa seperti jurang yang tak terjembatani.
“Kita terlalu lama menunda, Sin,” katanya, lirih. “Sampai akhirnya waktu yang menyentuh kita lebih dulu.”
Sinta menunduk. Setetes air hujan jatuh dari atap ke kusen jendela, lalu pecah menjadi serpihan kecil, seperti perasaan mereka—indah, tapi berantakan.
“Kalau saja malam itu aku nggak pergi…” gumamnya. “Kalau saja aku berani bertahan…”
Jeffri tersenyum tipis, “Kau tetap pergi karena waktu itu kau harus selamat. Aku tahu.”
Sinta menatapnya, mata yang masih memantulkan cahaya lampu meja di sisi ranjang. “Tapi aku nggak bisa selamat dari rasa ini, Jeff.”
Ia berbalik. Wajah mereka kini berhadapan, hanya sejarak napas. Di antara mereka, masih ada kehangatan yang dulu membuat malam-malam terasa abadi. Namun kini, setiap detiknya terasa seperti perpisahan yang tak mau diucapkan.
Jeffri mengusap pipi Sinta perlahan, namun sentuhannya hanya menyentuh udara. Tangannya tembus—seolah Sinta hanya bayangan.
Sinta memejamkan mata, air matanya jatuh bersamaan dengan detak hujan di luar. “Aku tahu… ini cuma mimpi, ya?”
Jeffri tersenyum getir. “Atau mungkin, ini sisa rindu yang belum selesai.”
Lampu meja berkedip. Angin berembus dari sela jendela yang terbuka sedikit, menggoyang tirai putih yang lembut. Suara azan subuh sayup terdengar dari kejauhan. Waktu bergerak pelan, seperti enggan mengusik dua jiwa yang masih tertaut di batas antara nyata dan kenangan.
Sinta duduk di tepi ranjang, tangannya masih menggenggam bantal putih yang lembap oleh air mata. Foto Jeffri di meja tampak buram oleh embun.
Ia menyentuh bingkai itu pelan. “Kau pergi terlalu cepat,” katanya lirih. “Dan aku masih di sini, menunggu sesuatu yang tak mungkin kembali.”
Jeffri berdiri di sisi tempat tidur, samar, tubuhnya mulai memudar bersama cahaya pagi. “Aku juga menunggu,” katanya. “Tapi di tempat lain.”
Sinta menoleh. “Kau tahu kenapa aku masih memanggilmu setiap malam?”
“Karena kau belum selesai,” jawab Jeffri lembut. “Dan aku pun belum tenang.”
Sinta berdiri. Ia melangkah mendekat, tubuhnya nyaris menyentuh udara tempat Jeffri berdiri. Dalam diam, keduanya seakan menyatu—antara duka dan cinta, antara dunia dan bayangan.
“Aku ingin satu hal saja,” bisik Sinta. “Satu sentuhan terakhir.”
Jeffri menatapnya. Di matanya ada kerinduan yang tak bisa diterjemahkan oleh waktu. Ia mengulurkan tangan—dan untuk sekejap, keajaiban kecil terjadi. Hujan berhenti. Cahaya pagi menembus jendela, membentuk siluet hangat di antara mereka.
Kulit mereka nyaris bersentuhan, lalu benar-benar bersentuhan—lembut, hangat, rapuh.
Sinta tersenyum dalam tangis. “Akhirnya…”
Namun detik berikutnya, udara kembali dingin. Jeffri menghilang seperti kabut yang tersapu cahaya.
Sinta terduduk di lantai, menatap kosong ruang yang tiba-tiba terasa sunyi. Hanya ada aroma kopi yang belum sempat diminum, dan suara detak jam yang terus berjalan tanpa belas kasihan. Ia menyentuh dadanya sendiri, mencoba mengingat rasa hangat tadi—rasa yang kini hanya tinggal gema.
“Sentuhan yang tak selesai…” bisiknya pelan. “Tapi cukup untuk membuatku percaya, bahwa cinta nggak pernah benar-benar mati.”
Di luar, matahari pagi muncul perlahan. Di balik jendela, tetes hujan terakhir jatuh, membawa serta kenangan yang tak lagi bisa diulang.
Sinta menatap keluar, bibirnya bergetar tapi tersenyum.
“Selamat tinggal, Jeff…” katanya dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Kau sudah menyelesaikan rinduku.”
Dan di ujung cahaya, sesaat sebelum benar-benar hilang, sekelebat bayangan Jeffri tersenyum—memandangnya dengan damai.
Pesan moral:
Cinta sejati tidak selalu harus berakhir dengan kebersamaan. Kadang, sentuhan terakhir yang tak selesai justru menjadi bentuk cinta yang paling abadi—karena di sanalah hati belajar menerima kehilangan dengan lembut.
