Samar Cahaya di Kelopak Malam

 

nes

Malam turun perlahan di langit desa kecil itu. Lampu-lampu jalan berpendar lembut, seperti bintang yang tersesat di bumi. Di antara dingin dan sunyi, langkah kaki Sinta terdengar pelan menyusuri jalan tanah menuju rumah kayu tua di ujung sawah.

Udara membawa aroma tanah basah dan sisa hujan sore. Di tangannya ada sebuah lentera kecil — cahayanya bergetar, menari di antara bayangan pepohonan.

Di teras rumah, Jeffri duduk dengan jaket abu-abu yang sudah lusuh. Di sampingnya, secangkir teh yang asapnya masih mengepul. Ia menatap ke arah lampu-lampu jauh di pematang sawah, seperti sedang mencari sesuatu yang belum juga pulang.

“Masih suka duduk di sini, ya?” suara lembut itu datang bersamaan dengan cahaya lentera yang semakin dekat.

Jeffri menoleh, tersenyum samar. “Kamu datang juga.”

Sinta meletakkan lentera di meja kecil. “Aku takut kamu kedinginan.”
“Sudah biasa,” jawab Jeffri, menatap ke arah sawah yang gelap. “Tapi malam ini entah kenapa terasa lebih dingin.”

Sinta duduk di sampingnya, jarak mereka hanya sejengkal. Hening sejenak, hanya bunyi jangkrik dan desir angin di sela dedaunan.

“Kamu ingat?” tanya Sinta pelan. “Dulu kita sering menyalakan lentera kayak gini di pinggir sawah.”
Jeffri tersenyum. “Aku ingat. Kamu selalu takut kalau nyalanya padam.”

Sinta ikut tersenyum kecil. “Soalnya aku nggak suka gelap.”
“Sekarang pun masih?”
“Masih,” jawabnya jujur. “Tapi kalau ada kamu, rasanya nggak seseram dulu.”

Jeffri menatap lentera yang kini berpendar hangat di antara mereka. “Cahaya itu kecil, tapi cukup untuk bikin kita nggak nyasar.”
Sinta mengangguk. “Sama seperti perasaan, ya?”

Jeffri terdiam sejenak. “Kadang perasaan juga kayak cahaya di kelopak malam — samar, tapi tetap kelihatan meski gelapnya menelan segalanya.”

Kata-kata itu membuat Sinta menunduk. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya — rindu yang lama, tapi juga takut untuk kembali tumbuh.
“Mas…” ia berbisik pelan, “apa semua yang dulu pernah redup bisa nyala lagi?”

Jeffri menatapnya. Tatapan itu dalam, lembut, dan jujur. “Kalau yang redupnya karena waktu, mungkin bisa. Tapi kalau karena luka… kadang cahaya itu butuh keberanian buat dinyalakan lagi.”

Sinta menarik napas panjang. Di antara bayangan malam, ia memandang wajah Jeffri yang kini disinari lembut oleh lentera. Waktu seolah berhenti. Hujan tipis mulai turun lagi, mengguratkan suara di atap seng tua.

Jeffri menoleh ke arah lentera. “Sebentar.” Ia berdiri, mengambil kain kecil, lalu menutupi lentera agar api tak padam tertiup angin. Setelah itu ia duduk kembali di samping Sinta.
“Dunia di luar mungkin gelap,” katanya lirih. “Tapi kita masih bisa bikin sudut kecil yang hangat, meski cuma dengan cahaya sekecil ini.”

Sinta menatap lentera itu — cahayanya berpendar samar di mata mereka. “Aku suka caramu menjaga hal-hal kecil, Mas.”
Jeffri tersenyum. “Hal kecil sering kali lebih jujur dari yang besar.”

Mereka diam lama. Hujan semakin deras, tapi lentera itu tetap menyala. Sinta memeluk lututnya, menatap ke depan.
“Aku pikir,” katanya pelan, “kita berdua cuma sisa dari cerita yang nggak selesai.”
“Bukan sisa,” balas Jeffri lembut. “Kita cuma jeda yang nggak tahu kapan halaman berikutnya akan dimulai.”

Sinta menatapnya lama sekali. Ada cahaya yang berbeda di matanya — bukan cahaya lentera, tapi sesuatu yang lebih dalam, seperti keyakinan kecil yang tumbuh lagi setelah lama padam.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “boleh nggak aku tetap duduk di sini, di jeda itu?”

Jeffri menatap wajahnya, tersenyum tipis. “Selama kamu mau, malam ini punya kita.”

Hujan makin rapat, tapi suara mereka justru semakin pelan — seperti dua hati yang berbisik di antara waktu.

Sinta bersandar sedikit, pundaknya menyentuh lengan Jeffri. Tidak ada kata lagi. Hanya cahaya kecil di atas meja yang bergetar pelan, memantulkan bayangan dua orang yang diam tapi saling mengerti.

Malam makin larut. Hujan berhenti perlahan, menyisakan bau tanah yang lembap dan udara dingin yang menenangkan. Lentera di depan mereka mulai meredup, cahayanya berdenyut pelan, seperti napas yang siap terlelap.

Sinta menatapnya sambil tersenyum kecil. “Mas, cahayanya hampir habis.”
Jeffri mengangguk. “Biarkan. Kadang yang indah memang nggak harus bertahan lama.”

Sinta menatap api kecil itu sampai padam sepenuhnya. Di gelap yang tersisa, ia bisa mendengar napas Jeffri di sampingnya. Tak ada cahaya lagi, tapi anehnya, malam terasa tak begitu kelam.

Karena di dalam hati mereka, ada sesuatu yang tetap menyala — samar, lembut, tapi nyata.