Rindu di Antara Dua Cangkir Kopi
(cerita romantis sinematik lembut tentang pertemuan yang tak pernah benar-benar berakhir)
Senja di kafe kecil itu selalu punya warna yang sama — oranye muda yang menembus kaca, menyentuh meja kayu, lalu berakhir di dua cangkir kopi yang tak pernah benar-benar dingin.
Di sana, Sinta duduk diam, jarinya menggambar lingkar tak berujung di atas permukaan meja. Di hadapannya, kursi kosong itu seolah bicara.
Suatu masa, kursi itu tak pernah kosong.
Dulu, Jeffri selalu duduk di sana — mengenakan kaos lusuh, tersenyum malu, dan menatap Sinta seolah dunia berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.
Kini, hanya ada sisa aroma kopi dan kenangan yang tak pernah selesai.
Sinta menarik napas panjang.
Sudah tiga tahun sejak Jeffri pergi tanpa pamit, meninggalkan pesan singkat di tengah malam: “Maaf, aku harus pergi. Tapi kau tetap kopiku, selalu.”
Kalimat itu menempel di hatinya seperti noda kopi di sisi cangkir — tak bisa dihapus, bahkan oleh waktu.
Bel pintu kafe berdenting pelan.
Suara langkah masuk, berirama tenang.
Sinta tak menoleh. Ia tahu ritme langkah itu. Ia pernah menulis puisi tentangnya, tentang cara langkah itu selalu berhenti tepat di belakang kursinya.
“Kau masih suka kopi hitam tanpa gula?”
Suara itu — lembut, berat, nyaris tak berubah.
Sinta menahan napas. Perlahan ia menoleh, dan di sana, berdiri Jeffri.
Rambutnya sedikit lebih panjang, matanya menyimpan semburat lelah, tapi senyum itu… masih sama.
“Jeffri…”
Suara Sinta pecah di udara.
Ia berdiri. Untuk sesaat, dunia di luar kafe lenyap — hanya ada mereka, dua manusia yang dulu pernah saling memiliki tapi kehilangan arah di tengah jalan.
Jeffri duduk di kursi di hadapannya. Ia memesan dua kopi hitam, sama seperti dulu.
“Aku kira kau tak akan datang lagi ke sini,” katanya.
“Aku juga kira kau tak akan kembali,” jawab Sinta pelan.
Hening.
Pelayan meletakkan dua cangkir di meja, dan aroma pahit itu menguap perlahan di antara mereka.
“Masih pahit,” kata Jeffri setelah menyesap.
“Selalu begitu. Tapi kita yang berubah, bukan kopinya.”
Jeffri tersenyum samar. “Aku kangen suara sinismu itu.”
Sinta menunduk, jemarinya bergetar kecil saat memegang cangkir. “Aku tidak menyangka kau datang lagi. Setelah semua yang—”
Jeffri memotong lembut, “Aku tidak ke mana-mana, Sinta. Aku hanya berhenti jadi alasanmu.”
Sinta mendongak. Matanya berair, tapi tatapannya tegas.
“Kau pergi tanpa kabar, Jeff. Aku menunggumu di kafe ini selama berbulan-bulan. Setiap sore, dua cangkir kopi terhidang, tapi hanya satu yang tersentuh.”
Jeffri menatap ke luar jendela. Hujan mulai turun, rintiknya menimpa kaca, menciptakan irama yang seirama dengan jantung yang berdebar tanpa arah.
“Aku tahu,” katanya lirih. “Dan aku menyesal. Tapi waktu itu… aku harus memilih.”
“Memilih apa?”
“Antara cinta yang membuatku hidup atau kenyataan yang bisa membunuhmu.”
Kata-kata itu menggantung di udara seperti uap kopi yang tak mau hilang.
Sinta terdiam. Ia tidak butuh penjelasan panjang; hatinya sudah tahu, tapi logikanya menolak mengerti.
Jam di dinding berdetak pelan. Waktu di kafe seolah melambat.
Di luar, hujan berubah deras.
Jeffri meraih sesuatu dari jaketnya — selembar kertas lusuh, terlipat rapi. Ia meletakkannya di atas meja.
“Apa ini?”
“Pesan yang tak sempat kukirim. Tiga tahun lalu.”
Sinta membuka lipatan itu perlahan. Tulisan tangan Jeffri masih sama: miring, tergesa, tapi penuh rasa.
“Jika suatu hari aku kembali, aku hanya ingin satu hal — menatapmu menyesap kopi di bawah cahaya senja, tanpa harus menjelaskan kenapa aku sempat pergi.”
Air mata Sinta jatuh di atas huruf terakhir.
Jeffri tersenyum samar, lalu berkata, “Sekarang aku sudah menatapmu lagi. Mungkin itu cukup.”
Sinta menggenggam cangkirnya, mencoba menyembunyikan getar tangannya.
“Cukup untukmu, tapi tidak untukku.”
Jeffri menatapnya.
“Mungkin aku harus pergi lagi.”
Sinta mendongak cepat. “Kenapa?”
“Karena kadang cinta tak harus dimiliki dua kali. Kau sudah sembuh, Sinta. Aku hanya bayangan masa lalu yang kebetulan menepi di kafe yang sama.”
Hening lagi.
Hujan makin deras.
Dua cangkir kopi itu kini sama-sama dingin.
Sinta akhirnya berkata, “Kau tahu kenapa aku masih datang ke sini setiap minggu?”
Jeffri menatapnya.
“Karena aku tahu, suatu hari, aroma kopi yang sama akan membawamu kembali. Dan aku ingin kau tahu… aku tidak pernah marah.”
Jeffri terdiam. Matanya basah, tapi ia tersenyum.
“Aku tahu. Karena itu aku datang, meski hanya untuk pamit dengan tenang.”
Ia berdiri, menghela napas panjang.
Tangan mereka hampir bersentuhan di atas meja, tapi berhenti satu inci sebelum benar-benar menyatu — seolah waktu menahan mereka di antara rindu dan realita.
“Kalau nanti kau ke sini lagi,” kata Jeffri, “biarkan cangkir di depanku tetap terisi. Aku mungkin tak akan datang, tapi rinduku akan selalu duduk di kursi ini.”
Sinta menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris pecah.
Jeffri berjalan menuju pintu. Bel kafe berdenting lembut — bunyi yang dulu jadi penanda pertemuan, kini jadi tanda perpisahan.
Sinta menatap punggungnya menjauh.
Ia ingin memanggil, tapi suara tak keluar.
Di depan pintu, Jeffri berhenti sejenak, menoleh, tersenyum kecil.
“Terima kasih, sudah menjaga kopi kita tetap hangat.”
Lalu ia pergi.
Hujan berhenti tepat saat cangkir itu benar-benar dingin.
Sinta memandangi dua cangkir di atas meja — satu masih penuh, satu hanya tersisa jejak bibir di pinggirannya.
Ia tersenyum tipis.
“Kopi dingin pun masih menyimpan aroma,” bisiknya. “Begitu juga rindu.”
Dan sore itu, kafe menjadi saksi bahwa cinta tak selalu butuh kepemilikan.
Kadang, cukup dua cangkir kopi yang pernah saling menghangatkan — untuk membuktikan bahwa rindu bisa hidup di antara sisa waktu yang diam.
💫
~ Selesai ~
