Rasa yang Tak Sempat Reda

 

ottawa senators

Langit sore itu tampak murung. Matahari enggan pulang, tertahan di balik awan kelabu yang menggantung di atas kota kecil tempat Sinta menunggu. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah kehilangan hangat, dan di dadanya—ada sesuatu yang lebih dingin dari hujan yang baru saja berhenti turun.

Ia duduk di kafe yang sama, di kursi yang sama, tempat dulu Jeffri sering menatapnya sambil tersenyum malu-malu. Kafe kecil itu kini terasa terlalu luas. Suara sendok bertemu cangkir dari meja sebelah tak mampu menutupi sepi yang merayap pelan.

“Sinta, kalau nanti aku pergi… jangan tunggu aku di tempat ini terus, ya?”

“Aku nggak janji,” jawabnya waktu itu, sambil tersenyum. “Tempat ini udah milik kita berdua.”

Kini, hanya satu yang datang: kenangan.
Dan rasa yang tak sempat reda.


1. Kopi yang Tak Pernah Dingin

Setiap Jumat sore, Sinta selalu datang ke kafe itu. Duduk di pojok dekat jendela, di mana cahaya senja jatuh tepat ke wajahnya.
Ia memesan dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Jeffri. Cangkir itu selalu dibiarkan utuh, uapnya perlahan hilang, tapi Sinta tak pernah menyingkirkannya.

“Masih suka pahit?” gumamnya pelan, seolah Jeffri masih duduk di hadapannya.
Tak ada jawaban, tapi ia tersenyum.
Mungkin karena di dalam hatinya, Sinta tahu, Jeffri masih mendengarnya.

Tiga tahun lalu, Jeffri meninggalkannya begitu tiba-tiba.
Bukan karena keinginan, tapi karena kecelakaan kecil yang merenggut nyawanya saat sedang dalam perjalanan pulang ke kota tempat Sinta menunggu.

Hari itu, langit juga mendung. Dan seperti sore ini, aroma hujan memenuhi udara.


2. Surat di Balik Cangkir

Pelayan kafe yang sudah mengenalnya baik datang menghampiri.
“Masih dua cangkir, Mbak Sinta?”
Ia mengangguk pelan. “Seperti biasa.”

Saat pelayan itu berlalu, matanya jatuh pada sesuatu di bawah taplak meja.
Amplop kecil berwarna cokelat muda. Ia terkejut—karena di pojoknya tertulis dengan tulisan tangan yang ia kenal: Jeffri.

Tangannya gemetar saat membuka. Di dalamnya ada selembar kertas lusuh, dengan aroma kertas lama yang pernah basah.

Sinta, kalau suatu hari kau menemukan ini, berarti aku tak sempat bilang semuanya.
Aku ingin kau tahu, aku pulang bukan untuk pergi, tapi untuk memulai lagi. Aku beli dua tiket ke Yogyakarta. Satu untukmu. Aku ingin kita menulis ulang hidup yang sempat tertunda.

Kalau aku tak sampai, jangan buang kopiku, ya. Biarkan pahitnya tetap di sana, biar kau tahu—aku masih ada di setiap tegukmu.

—Jeffri.

Air mata Sinta jatuh satu-satu ke atas surat itu, membentuk noda kecil yang menyamarkan huruf terakhir.
Ia tersenyum getir.
“Jadi ini yang kamu simpan, ya? Waktu itu kamu mau pulang buat aku…”

Hujan kembali turun, seolah langit pun tak kuat menahan rindu.


3. Antara Pahit dan Manis

Malam mulai turun perlahan. Lampu kafe memantulkan cahaya lembut di kaca jendela yang berembun.
Sinta masih duduk di sana. Di depannya, cangkir Jeffri masih utuh.
Ia mengangkat cangkirnya sendiri, menyesap sedikit kopi yang sudah dingin. Rasanya pahit, tapi di sanalah justru kehangatan itu bersembunyi.

“Dulu kamu bilang,” ujarnya pelan, “kalau cinta itu kayak kopi. Harus dinikmati meski pahit, karena di situlah rasa jujurnya.”

Hening.
Tapi di pantulan kaca, ia melihat sesuatu: bayangan Jeffri duduk di kursi seberang. Tersenyum tenang. Seolah waktu tak pernah berlalu.

Ia tak berani menoleh.
Hanya menggenggam cangkir lebih erat, menahan gemetar.

“Kamu masih di sini, kan?”

“Selalu,” suara itu menjawab lirih, seolah datang dari udara.

Dan saat itu, Sinta tahu—beberapa rasa memang tak dimaksudkan untuk reda.
Karena mereka hidup bukan di tubuh, tapi di jiwa.


4. Rasa yang Tersisa

Beberapa bulan berlalu. Kafe itu tetap berdiri, tapi kini meja di pojok dekat jendela selalu dihiasi bunga melati putih di dalam gelas kecil. Pelayan tak pernah tahu siapa yang menaruhnya setiap pagi.

Kadang, pelanggan baru duduk di sana, lalu merasa aneh—seolah ada dua kursi yang sudah dipesan.
Dan ketika mereka memesan kopi, barista selalu menyeduh dua cangkir, bukan satu.

Di luar jendela, daun-daun basah memantulkan cahaya matahari pagi.
Sinta tak lagi terlihat datang ke sana setiap Jumat. Tapi di buku tamu kafe, seseorang pernah menemukan tulisan dengan tinta biru samar:

Rasa yang tak sempat reda bukan berarti tak selesai.
Ia hanya menunggu waktu untuk kembali menjadi tenang.


5. Di Antara Dua Dunia

Suatu malam, pemilik kafe pulang lebih larut dari biasanya.
Ketika hendak mematikan lampu, ia melihat dua cangkir kopi di meja jendela, masih mengepulkan uap hangat.
Padahal tak ada satu pun pelanggan yang datang sore itu.

Dari jendela luar, samar-samar tampak dua bayangan—seorang pria dan seorang wanita, duduk saling berhadapan.
Yang satu tertawa kecil, yang satu menunduk, memainkan ujung rambutnya seperti dulu.

Dan di tengah keheningan itu, terdengar bisik yang menenangkan:

“Kita akhirnya tenang, ya?”

“Iya, Jeff… Akhirnya reda juga, meski rasanya masih di sini.”

Kemudian, bayangan itu perlahan memudar bersama kabut yang naik dari jalanan basah.
Hanya dua cangkir kopi yang tersisa—satu pahit, satu manis, dan keduanya masih hangat.


Akhir:
Kadang, cinta tak perlu berakhir untuk disebut kehilangan.
Ada rasa yang tak sempat reda, tapi juga tak pernah hilang—karena di sanalah dua jiwa bertemu tanpa waktu. ☕🌧️