Perempuan dari Balik Jendela Kaca
Langit kota pagi itu berwarna kelabu muda — seperti lembar surat yang belum sempat diisi kata. Angin bergerak pelan di antara gedung-gedung tinggi, membawa aroma hujan semalam dan suara langkah yang terburu. Di jalan yang masih basah, Jeffri berdiri dengan jaket denim lusuhnya, menatap ke atas — ke jendela lantai dua puluh satu, di mana Sinta biasanya berdiri.
Jendela itu besar, menghadap ke arah timur, tepat ke jalur matahari yang sedang berjuang menembus awan.
Di balik kaca bening yang sesekali berembun, ia bisa melihat siluet perempuan berhijab lembut — gerakannya pelan, matanya selalu menatap ke luar, seolah sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Sudah hampir tiga bulan Jeffri datang ke sana, setiap pagi, pukul enam lewat dua belas.
Ia tak pernah bertemu langsung lagi dengan Sinta sejak hari itu — sejak kabar yang membuatnya runtuh datang lewat pesan singkat dari nomor tak dikenal:
“Sinta... sudah tenang sekarang. Kami tahu kamu orang terakhir yang dia hubungi.”
Tapi bagi Jeffri, setiap kali ia menatap jendela itu, tubuhnya menolak percaya.
Karena bayangan perempuan itu — dengan gerakan halus yang begitu khas — masih ada di sana.
Setiap pagi.
Kadang Sinta terlihat berdiri memegang mug putih, kadang memandangi langit. Pernah juga sekali, Jeffri melihat kain tirai bergerak seolah tangan lembut itu mengibaskannya sedikit, memberi isyarat.
Hari ini pun sama.
Ia menatap ke atas sambil menggenggam termos kopi kecil — kebiasaan yang dulu mereka lakukan berdua di kafe kecil dekat kantor.
Jeffri meneguk sedikit, lalu menatap lagi.
Perempuan itu masih di sana.
Dan kali ini, ia jelas melihatnya.
Sinta.
Mengenakan pakaian tidur panjang berwarna biru muda, dengan rambut yang terurai sedikit dari kerudung tipis.
Cahaya mentari memantul di kaca, membuat wajahnya samar tapi hangat.
“Pagi, Sin…” bisik Jeffri, pelan, seolah takut mengusir bayangan itu.
Orang-orang lewat di sekitarnya, tak ada yang memperhatikan ke mana ia menatap. Bagi dunia, mungkin Jeffri hanya pria aneh yang berdiri menatap gedung kosong. Tapi bagi dirinya, jendela itu adalah satu-satunya tempat yang masih menyimpan arti: rumah bagi segala rindu yang tak sempat ia ucapkan.
Tiga tahun lalu, apartemen itu pernah jadi saksi awal cinta mereka.
Sinta menyewanya setelah pindah kerja ke Jakarta. Jeffri sering datang membawa makanan dari warung langganan mereka di Tebet — soto ayam, teh hangat, dan cerita kecil tentang hari-hari yang tidak mudah.
“Kalau aku tinggal di lantai tinggi,” kata Sinta suatu malam sambil menatap lampu kota dari balik jendela, “aku bisa lihat dunia dari jauh, tapi tetap merasa kecil. Itu menenangkan.”
Jeffri tersenyum waktu itu, memeluk dari belakang.
“Kalau kamu di jendela, aku pasti datang dari bawah. Biar kamu tahu, aku nggak pernah jauh.”
Kalimat itu dulu hanya gurauan, tapi kini terasa seperti janji yang dijalani dengan luka.
Pagi berganti siang. Matahari naik lebih tinggi, dan bayangan di balik kaca mulai memudar. Tapi Jeffri tetap di situ, menunggu. Ia duduk di kursi taman kecil di seberang gedung, membuka buku catatan yang dulu diberikan Sinta — halaman pertama penuh tulisan tangannya:
“Kalau aku nggak sempat bilang terima kasih, kamu bisa baca ini.”
Ia belum pernah membuka halaman itu sampai hari ini. Jemarinya gemetar saat menyentuh kertas.
Tulisan tangan Sinta masih rapi, miring ke kanan.
“Jeff, kalau kamu baca ini, mungkin aku sudah nggak bisa lagi berdiri di balik jendela. Tapi aku percaya, kamu akan tetap datang. Karena kamu nggak pernah pergi benar-benar, kan?”
Jeffri menutup buku itu pelan. Matanya panas, tapi bibirnya tersenyum kecil.
“Ya, aku nggak pernah pergi, Sin.”
Ia menatap ke atas lagi — ke jendela yang kini kosong.
Tapi saat awan bergerak, cahaya mentari menembus kaca itu dan untuk sepersekian detik, ia melihatnya lagi.
Sinta.
Menatap ke bawah, tersenyum samar.
Dan tiba-tiba angin berhembus lembut, membawa wangi yang tak asing: wangi sabun lembut yang dulu selalu menempel di kulitnya, bercampur sedikit aroma melati.
Jeffri menengadah, menutup mata, membiarkan angin itu lewat.
“Sinta…” suaranya nyaris tak terdengar, “kalau kamu masih di situ, tolong jangan cepat pergi.”
Malamnya, Jeffri kembali ke rumah kecilnya di pinggiran kota. Ia membuka laptop, memutar folder lama berisi foto-foto mereka. Salah satunya menampilkan Sinta di depan jendela kaca yang sama, tertawa kecil sambil memegang cangkir kopi.
Foto itu diambil hanya dua minggu sebelum semuanya berakhir.
Kecelakaan mobil di tol saat hujan deras.
Sinta tidak pernah sampai di rumah.
Jeffri memandangi layar lama sekali.
Lalu ia menatap keluar jendela rumahnya — di sana, gedung apartemen itu masih terlihat dari kejauhan.
Dan di salah satu jendela yang berkilau samar karena pantulan cahaya malam, ia melihatnya lagi.
Bayangan perempuan itu.
Masih berdiri, tenang, di balik kaca.
Air mata jatuh perlahan di pipinya. Tapi kali ini tidak terasa menyakitkan.
Hanya hangat.
Seperti seseorang sedang memeluknya dari jauh.
“Baiklah, Sin,” bisiknya. “Kalau kamu di sana, aku akan tetap di sini. Sampai suatu pagi nanti, kita bisa lihat matahari yang sama… tanpa kaca di antara kita.”
Hari-hari berikutnya, Jeffri tetap datang setiap pagi. Kadang duduk di kursi taman, kadang hanya berdiri di trotoar. Orang-orang yang lewat sudah mengenalnya sebagai pria yang “menunggu seseorang.”
Mereka tidak tahu siapa.
Dan Jeffri tak pernah menjelaskan.
Sampai suatu pagi, petugas kebersihan apartemen turun menghampirinya. Lelaki tua itu menatapnya lama, lalu berkata pelan,
“Mas, jendela lantai dua puluh satu itu… udah lama kosong. Yang tinggal di situ meninggal tiga bulan lalu. Tapi saya kadang juga ngerasa, kayak masih ada yang berdiri di situ tiap pagi.”
Jeffri hanya tersenyum. “Iya, Pak. Saya juga.”
Ia menatap lagi ke atas. Jendela itu kini dipenuhi cahaya matahari.
Dan di balik kaca yang berkilau, Sinta tampak berdiri sebentar — lalu perlahan berjalan menjauh ke arah cahaya.
Seperti berpamitan.
Jeffri menunduk.
Kali ini, ia tak menangis.
Hanya memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, membiarkan wangi itu mengisi dadanya sekali lagi.
Wangi melati, wangi sabun lembut, wangi cinta yang tak pernah benar-benar mati.
Dan saat ia membuka mata, ia tersenyum kecil.
Langit sudah mulai biru. Burung-burung terbang di antara gedung.
Pagi terasa lebih hangat.
Mungkin karena di balik jendela kaca itu, seseorang akhirnya benar-benar pulang.
