Pelukan yang Tertunda

 

ottawa citizen

Hujan turun lagi malam itu. Butir-butirnya jatuh perlahan di atas genting rumah kecil di pinggiran kota, menciptakan suara yang lembut namun menyayat. Sinta berdiri di depan jendela, mengenakan sweater abu-abu yang sudah mulai longgar. Tangannya menggenggam mug cokelat panas, tapi yang ia cari bukan hangatnya—melainkan seseorang yang dulu selalu duduk di kursi kayu di seberang sana, menunggunya dengan senyum sederhana.

Jeffri.

Nama itu masih hidup di kepalanya, seperti gema yang tak pernah padam.
Sudah dua tahun sejak ia pergi tanpa sempat mengucap selamat tinggal. Kecelakaan di perbatasan kota itu datang terlalu cepat, terlalu tiba-tiba—meninggalkan Sinta dengan seribu kata yang tak sempat diucapkan, dan satu pelukan yang belum sempat diberikan.


1. Janji yang Menggantung

Sinta menatap kursi kosong itu lama.
Hujan membuat kaca berembun, dan di antara kabut tipis itu, ia bisa membayangkan Jeffri duduk seperti dulu: kemeja lusuh, rambut sedikit acak, dengan tawa yang selalu muncul tanpa alasan.

“Nanti sore, aku balik. Aku janji,” kata Jeffri waktu itu, sebelum naik motor menuju kota.

“Jangan lama,” balas Sinta, menahan senyum. “Aku mau peluk kamu pas pulang.”

Jeffri hanya mengangguk, tapi matanya seperti tahu sesuatu yang tak sempat ia katakan.
Pelukan itu tak pernah terjadi.


2. Suara dari Hujan

Malam makin dalam.
Sinta duduk di lantai, menatap foto mereka berdua di rak kecil dekat lampu tidur. Wajah Jeffri di foto itu tampak muda, hidup, dan hangat. Ia mengusap permukaan kaca bingkai itu pelan, seolah menyentuh kulitnya.

“Kenapa kamu nggak pulang waktu itu, Jeff…” suaranya nyaris tenggelam oleh hujan di luar.

Di tengah sepi itu, sesuatu terdengar.
Suara langkah pelan di teras.
Sinta menahan napas.
Ia yakin, tidak mungkin ada siapa pun di luar—jam sudah lewat tengah malam, dan hujan belum juga reda.

Tapi kemudian, ada suara lembut memanggil dari arah pintu.

“Sinta…”

Tubuhnya gemetar. Ia berdiri, berjalan pelan ke arah suara itu.
Pintu terbuka sedikit, dan angin membawa aroma familiar—wangi sabun yang dulu selalu Jeffri pakai setiap pulang kerja.

Tapi di luar hanya ada udara dan bayangan.
Namun di tengah hujan, samar-samar terlihat siluet seseorang berdiri di halaman, menatap ke arahnya dengan senyum yang lembut.
Sinta terisak. Ia tahu bayangan itu.
Ia tahu cara berdirinya, cara kepalanya miring sedikit ke kanan.

“Jeffri…” suaranya pecah di antara hujan. “Kamu datang?”

Bayangan itu tidak menjawab. Hanya mengulurkan tangan, seolah memintanya mendekat.


3. Pelukan yang Tak Selesai

Sinta melangkah pelan keluar. Kakinya dingin menyentuh lantai teras yang basah.
Angin menusuk, tapi tubuhnya terasa hangat oleh harapan yang tak ia mengerti.
Ketika akhirnya ia berdiri di depan bayangan itu, sesuatu yang aneh terjadi—hujan di sekitarnya terasa berhenti.
Semesta seolah menahan napas.

Jeffri menatapnya, senyum itu masih sama.
Tangan mereka hampir bersentuhan.
Sinta mengangkat tangannya, jari-jarinya gemetar saat menyentuh udara di depan dada Jeffri. Tapi tak ada yang bisa ia rasakan, kecuali dingin dan kekosongan.

Air matanya jatuh deras.

“Aku cuma mau peluk kamu sekali aja… sekali aja…”

Jeffri menatapnya lembut.

“Kau sudah memelukku, Sinta. Sejak hari aku pergi, setiap doa yang kau bisikkan itu pelukan bagiku.”

Cahaya samar muncul di sekitar Jeffri.
Tubuhnya perlahan memudar, seperti kabut tersapu angin. Tapi sebelum hilang sepenuhnya, ia sempat berkata pelan:

“Sekarang aku pulang. Peluklah langit malam, karena di sanalah aku tinggal.”


4. Setelah Kepergian

Sinta kembali ke dalam rumah, basah dan menggigil.
Ia duduk di kursi yang dulu Jeffri duduki, memeluk mug yang kini sudah dingin. Tapi untuk pertama kalinya setelah dua tahun, dadanya terasa lega.
Di balik kesedihan, ada hangat yang sulit dijelaskan—seolah Jeffri benar-benar baru saja pulang.

Di dinding, foto mereka berdua tampak lebih terang dari biasanya.
Dan di jendela yang berembun, muncul tulisan samar seperti goresan jari:
“Pelukanku tak tertunda lagi.”


5. Waktu yang Akhirnya Tenang

Pagi datang perlahan. Hujan sudah berhenti.
Sinta membuka jendela, membiarkan udara segar masuk bersama cahaya lembut matahari.
Ia menatap langit lama sekali, lalu tersenyum.

“Aku sudah peluk kamu, Jeff,” bisiknya. “Kali ini sampai.”

Dan di luar, di ujung halaman, seekor kupu-kupu putih menari sebentar sebelum terbang ke arah cahaya pagi.
Sinta menatapnya dengan mata basah, namun senyumnya tak hilang.
Karena ia tahu—beberapa pelukan memang tak datang di dunia ini.
Tapi selalu tiba di tempat yang lebih abadi.


Akhir:
Kadang cinta tak berakhir dengan pertemuan, tapi dengan keberanian untuk melepaskan.
Sebab ada pelukan yang tak tertunda—hanya berganti waktu untuk sampai. 🌧️🤍