Pelan Aku Menyentuh Namamu
![]() |
| Pelan Aku Menyentuh Namamu |
Malam itu berjalan lambat.
Lampu kamar menggantung lemah, cahayanya bergetar di antara embusan angin yang datang dari jendela setengah terbuka. Tirai bergerak pelan, seperti napas seseorang yang menahan haru.
Sinta duduk di tepi ranjang, dengan selimut setengah melingkari tubuhnya. Di hadapannya ada meja kecil, di atasnya berdiri bingkai foto berdebu — foto lama, mereka berdua tersenyum di tepian sawah, sebelum segalanya berubah jadi jarak.
Ia mengulurkan tangan, mengusap permukaan kaca itu perlahan. Hujan tipis di luar mengetuk jendela dengan ritme yang nyaris menenangkan, tapi di dalam dadanya, justru ada kekacauan yang pelan-pelan tumbuh.
“Jeffri…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
“Kau masih mendengarku, kan?”
Udara terasa padat.
Sinta menunduk, menatap jejak jarinya di atas foto itu. Namanya masih terucap, tapi hanya sampai di bibir. Tidak ada yang menjawab.
Lalu, suara langkah pelan terdengar di balik pintu.
Satu hentakan kunci, suara engsel yang berderit, dan sosok itu muncul — Jeffri, dengan jaket yang masih basah oleh gerimis, dan mata yang seolah membawa seluruh waktu yang hilang.
Ia berdiri di ambang pintu, tidak bergerak. Cahaya lampu yang temaram memantul di wajahnya, memecah antara rindu dan penyesalan.
Sinta tak beranjak.
Ia hanya memandang. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi bibirnya terasa kaku. Mungkin karena di antara mereka, sudah terlalu banyak kata yang tak pernah sempat diucapkan.
Jeffri menarik napas.
“Aku tak tahu harus mulai dari mana,” katanya pelan.
“Tapi setiap malam, aku masih mendengar namamu. Di antara tidurku, di sela udara yang dingin, kau selalu hadir.”
Sinta tersenyum kecil, tapi matanya basah.
“Aku juga mendengarmu, Jeff,” ujarnya lembut. “Di setiap sepi, aku selalu memanggilmu… pelan, seolah takut kau benar-benar datang.”
Jeffri melangkah mendekat.
Setiap langkahnya terasa berat, seolah melewati jarak yang bukan sekadar ruang, tapi juga waktu dan kesalahan. Ia berhenti di dekat meja kecil itu. Foto yang tadi dipegang Sinta kini tampak jelas di antara mereka.
“Masih kau simpan,” katanya perlahan.
Sinta mengangguk. “Aku tak pernah punya alasan untuk membuangnya.”
Hening.
Hujan di luar mulai reda, menyisakan aroma tanah basah yang menembus dari celah jendela. Cahaya lampu memantul di lantai, memantulkan bayangan mereka berdua yang nyaris bersatu tapi tak benar-benar menyentuh.
Jeffri duduk di kursi di samping ranjang. Ia menunduk, lalu berkata lirih,
“Aku sering berpikir, kalau saja waktu bisa diulang… aku akan tetap datang malam itu. Tapi kali ini, tidak akan pergi lagi.”
Sinta memejamkan mata. Ada denyut halus di dada kirinya, antara lega dan takut.
“Kau tahu,” katanya, “aku sudah berkali-kali mencoba berhenti menyebut namamu. Tapi setiap kali aku berdoa, entah bagaimana, namamu selalu ikut.”
Jeffri tersenyum kecil, sedih.
“Mungkin karena cinta yang benar tak bisa dipaksa berhenti.”
Suasana berubah sunyi.
Di luar, suara air menetes dari genting, berpadu dengan desir angin. Sinta berdiri, berjalan pelan ke arah jendela, lalu menatap keluar. Hujan telah berhenti, tapi kaca jendela masih basah. Ia menempelkan telapak tangannya di sana, membiarkan dingin menelusup ke kulitnya.
Jeffri memperhatikannya dari belakang — siluet Sinta yang berdiri di bawah cahaya lampu tampak begitu rapuh, tapi juga indah dalam keheningannya.
“Aku masih di sini, Sin,” katanya pelan. “Meskipun terlambat, aku ingin kau tahu — aku tak pernah pergi sepenuhnya.”
Sinta menoleh perlahan. Pandangannya bertemu mata Jeffri.
“Aku tahu,” jawabnya dengan suara yang nyaris seperti napas. “Karena setiap kali aku menyebut namamu, aku selalu merasakan hadirmu.”
Ia melangkah kembali, duduk di sisi ranjang, lalu menatap Jeffri yang kini menunduk di kursi. Di antara mereka, jarak hanya sejengkal. Tapi kedekatan itu terasa seperti seribu langkah yang tertahan.
Sinta menatap wajah Jeffri lama, seolah ingin mengingat setiap lekuknya — bukan dengan mata, tapi dengan hati yang telah terlalu lama menunggu.
“Aku tidak ingin mengulang,” katanya lembut. “Aku hanya ingin mengingat dengan tenang.”
Jeffri mengangguk pelan.
“Maka biarkan aku duduk di sini malam ini, tanpa bicara apa-apa. Cukup biarkan aku mendengarmu bernapas.”
Malam pun berputar dengan lambat.
Cahaya lampu bergoyang lembut di dinding, menari bersama bayangan mereka. Tidak ada suara selain napas dan detak waktu.
Sinta menyandarkan kepala ke dinding, matanya menatap langit-langit yang setengah gelap.
“Kau tahu, Jeff…” bisiknya. “Kadang aku iri pada udara. Ia bisa menyentuhmu tanpa takut kehilanganmu.”
Jeffri terdiam. Ia ingin berkata sesuatu, tapi memilih diam.
Karena dalam diam itu, ia tahu — cinta mereka masih hidup, meski tak berani menyebut namanya terlalu keras.
Beberapa menit berlalu.
Sinta menggeser tangannya ke meja kecil, menyentuh lagi bingkai foto itu. Kali ini tanpa air mata, hanya kehangatan yang mengalir lembut dari ujung jari.
“Pelan…” katanya. “Pelan aku menyentuh namamu. Karena mungkin, itu satu-satunya cara aku bisa memelukmu — tanpa menyakiti diriku sendiri.”
Jeffri menunduk, menatap lantai, dan berkata lirih,
“Dan aku akan mendengarnya, setiap kali kau menyebutku.”
Hening kembali hadir, tapi kini terasa damai.
Lampu perlahan padam separuh, meninggalkan kamar dalam cahaya jingga yang lembut. Di luar, langit mulai bersih, bintang-bintang muncul satu per satu.
Sinta menarik napas panjang, menatap Jeffri untuk terakhir kalinya malam itu.
“Jika besok kau pergi lagi, pergilah dengan tenang,” katanya. “Aku sudah belajar menerima, bahkan jika hanya nama yang tersisa.”
Jeffri berdiri perlahan.
“Aku tak tahu ke mana harus pulang,” katanya. “Tapi malam ini… rasanya aku sudah sampai.”
Ia menatapnya sekali lagi, lalu melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak, menoleh, dan berkata dengan suara yang hampir hilang:
“Terima kasih karena masih menyebut namaku.”
Pintu tertutup.
Sinta menatap ruang kosong di depan, lalu kembali memegang bingkai itu. Ia tersenyum — bukan senyum bahagia, tapi senyum yang menerima segalanya dengan tenang.
Malam menua sekali lagi.
Dan di udara yang lembut itu, hanya satu suara yang tersisa — suara hati yang memanggil dengan lembut,
“Jeffri…”
Nama itu melayang perlahan, seperti embun yang tak sempat jatuh.
Disentuh, tanpa pernah benar-benar tersentuh.
