Malam yang Menyimpan Bisik
Hujan turun perlahan, menetes di kaca jendela kamar yang remang. Di balik tirai tipis berwarna kelabu, Sinta berdiri diam—menatap jauh ke luar, seolah menunggu sesuatu yang tak lagi bisa kembali. Rambutnya yang sedikit lembap menempel di sisi pipi. Di tangannya, secangkir teh melati yang sejak tadi tak ia sentuh mulai kehilangan uap hangatnya.
Suara jam dinding berdetak pelan, berpacu dengan degup yang terasa hampa di dadanya.
Sudah tiga bulan sejak Jeffri pergi, namun setiap malam seperti ini—dingin, sepi, dan basah oleh rindu—Sinta masih bisa mendengar bisikannya.
“Kalau nanti aku tak sempat pulang, jangan menangis di jendela. Aku tak suka melihat matamu basah.”
Ia masih mengingat kata-kata itu, bahkan nada suaranya—lembut tapi penuh kepastian. Tapi malam-malam seperti ini justru selalu menjeratnya ke dalam kenangan yang tak mau mati.
1. Kenangan yang Tak Pergi
Sinta duduk di tepi ranjang. Seprai putih di bawahnya masih menyimpan bekas lekukan tubuh dua orang—bekas kebersamaan yang tak lagi utuh.
Ia mengusap bantal pelan, dan wangi samar parfum Jeffri seolah masih tertinggal di sana. Wangi yang dulu menenangkan, kini justru menusuk seperti duri halus.
Angin masuk lewat celah jendela, mengibaskan tirai.
Sejenak, Sinta menutup mata. Dalam gelap itu, ia bisa mendengar lagi tawa Jeffri—tawa yang dulu memenuhi setiap pagi di rumah kecil mereka di pinggiran sawah.
“Kau tahu, Sin… aku tak pernah bisa tidur tanpa suara hujan. Rasanya seperti bumi sedang bercerita,” katanya dulu, sambil memeluknya dari belakang.
Dan malam ini, bumi sedang bercerita lagi.
Tentang kehilangan yang terlalu sunyi.
Tentang cinta yang bahkan hujan pun tak mampu cuci bersih.
2. Surat yang Tak Pernah Sampai
Di meja rias, ada sebuah amplop lusuh. Di dalamnya, surat yang tak pernah sempat dikirim. Tulisan tangan Sinta di sana goyah, bercampur noda air mata yang sudah lama mengering.
“Jeffri, malam ini aku kembali menyalakan lilin di jendela. Bukan untuk memanggilmu, tapi untuk mengingat bahwa pernah ada cahaya yang kita bagi bersama. Aku tak tahu kau di mana sekarang, tapi setiap tetes hujan selalu membuatku merasa kau sedang bicara lewat langit.”
Ia berhenti membaca. Matanya memerah.
“Kenapa aku masih menulis padamu, Jeff?” bisiknya pelan. “Kau bahkan tak akan pernah membacanya.”
Di luar, suara petir bergemuruh jauh di barat. Langit seperti memantulkan keresahan yang sama.
Sinta menunduk. Di dadanya, ada ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun, karena Jeffri tak hanya pergi—dia hilang.
Bukan meninggalkan, tapi lenyap, setelah kecelakaan mobil di perbatasan kota.
Tak ada jasad, hanya puing dan serpihan pakaian yang dikenalinya dari potongan kain di lengan baju.
3. Bisikan dari Gelap
Malam makin larut. Lilin di meja tinggal separuh.
Ketika angin kembali meniup tirai, Sinta mendengar sesuatu.
Sebuah bisikan samar di telinganya.
Lembut. Hangat. Akrab.
“Sinta…”
Ia menoleh spontan. Tak ada siapa pun.
Tapi bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup cepat.
“Jeffri…?” suaranya bergetar, antara takut dan rindu.
Angin diam. Tapi kemudian ada bayangan samar di kaca jendela—bayangan seorang pria berdiri di luar, basah oleh hujan.
Sinta menahan napas.
Langkahnya maju pelan.
Tangan gemetar membuka tirai.
Kosong.
Tak ada siapa pun.
Hanya tetes-tetes hujan yang menuruni kaca, membentuk siluet seolah wajah yang menatap balik.
Air mata Sinta jatuh. Tapi ia tersenyum kecil.
“Kalau ini cuma mimpi, biarkan aku di sini sedikit lebih lama,” bisiknya.
Ia duduk kembali di tepi ranjang, menatap ke arah jendela yang kini memantulkan dirinya sendiri—tapi di ujung pantulan itu, ada bayangan Jeffri berdiri di belakangnya, samar, seperti sisa cahaya.
4. Tidur dalam Rindu
Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat sepuluh.
Sinta membaringkan tubuhnya di ranjang yang dingin. Ia memeluk bantal erat, seolah memeluk sesuatu yang tak kasat mata.
Suara hujan menenangkan, tapi juga menyayat.
Dan di antara desau angin, ada nada yang pernah ia kenal—seperti Jeffri sedang bernyanyi pelan, lagu yang dulu mereka nyanyikan di malam pertama mereka menikah.
“Kalau nanti pagi datang, jangan lupa tersenyum. Aku suka melihat wajahmu disinari matahari.”
Sinta menutup mata. Senyumnya muncul perlahan, tapi matanya tak terbuka lagi.
Lilin padam perlahan, meninggalkan sisa asap yang melingkar di udara—seperti wangi tubuh yang enggan pergi.
5. Fajar di Balik Jendela
Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari menembus tirai tipis, menyentuh wajah Sinta yang tenang di atas ranjang. Di meja, secangkir teh melati sudah dingin.
Dan di kaca jendela, ada jejak telapak tangan basah—dua tangan, seolah seseorang berdiri di luar tadi malam, menempelkan tangannya di sana.
Petugas yang datang pagi itu menemukan Sinta sudah tak bernapas.
Tubuhnya hangat, bibirnya tersenyum. Tak ada tanda luka, hanya wangi melati yang kuat di kamar.
Tapi hal yang membuat mereka heran adalah satu hal kecil:
di sebelah bantal, ada jaket pria basah oleh hujan, dengan nama “JEFFRI” terbordir di saku dada.
Tak ada yang tahu dari mana datangnya.
Tak ada yang tahu siapa yang membawanya.
Namun setiap kali hujan turun malam-malam berikutnya, tetangga sering mendengar suara dua orang bercakap lembut dari kamar itu—seperti dua rindu yang akhirnya menemukan tempatnya di keabadian.
Akhir yang Tenang.
Dua jiwa, satu malam, dan bisik yang tak lagi berhenti. 🌧️
