Malam yang Menggigil di Pundakmu
![]() |
| Malam yang Menggigil di Pundakmu |
Angin malam itu turun perlahan, seperti sehelai kain dingin yang menyelimuti halaman kecil di belakang rumah. Sinta menatap langit yang kelabu, menahan desir yang berlari di dadanya. Hujan tipis turun, menggantung di ujung rambutnya yang sedikit basah di bawah tudung jaket tipis.
“Masih suka hujan?” suara Jeffri memecah sunyi di belakangnya.
Sinta menoleh pelan. Senyum itu masih sama — teduh, sederhana, dan selalu berhasil membuat dadanya hangat bahkan dalam dingin yang paling gigil.
“Masih,” jawabnya lirih. “Tapi sekarang rasanya lain.”
Jeffri melangkah mendekat, tangannya menggenggam payung hitam yang sudah setengah rusak di ujungnya. Ia berdiri di samping Sinta, memayunginya tanpa banyak kata. Mereka menatap ke arah kebun kecil yang dulu sering mereka rawat bersama — pohon jambu yang kini tumbuh liar, dan bangku kayu yang mulai berlumut.
“Dulu, setiap hujan datang, kamu selalu minta diseduhkan kopi,” kata Jeffri sambil tersenyum kecil.
Sinta menunduk. “Sekarang aku minum sendiri.”
Hening. Hanya bunyi hujan yang memantul di tanah dan atap. Dalam jarak sedekat itu, ada kenangan yang ingin bicara — tapi mereka berdua terlalu takut untuk mengizinkan.
Jeffri duduk di bangku tua itu, menepuk tempat kosong di sampingnya. “Duduklah. Dingin di luar, tapi kalau di sini… mungkin masih bisa hangat.”
Sinta menatapnya sejenak, lalu menuruti. Jaketnya basah, ujung kainnya meneteskan air di ujung jemarinya. Ia menarik napas panjang.
“Mas, pernah nggak sih, ngerasa… semua yang dulu pernah hangat, tiba-tiba jadi asing?”
Jeffri tak langsung menjawab. Ia memandang wajah Sinta dari samping — lembut, tapi menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh.
“Mungkin bukan asing,” katanya pelan. “Cuma kita yang berubah cara menatapnya.”
Sinta diam. Hujan makin deras. Ia menggigil sedikit, menahan udara malam yang makin tajam menusuk kulit. Jeffri melepas jaketnya dan menaruhnya di pundak Sinta.
“Mas…”
“Sudah. Jangan keras kepala,” ujarnya lembut. “Kamu selalu begitu dari dulu.”
Sinta tersenyum samar. “Dulu kamu suka kalau aku keras kepala.”
Jeffri ikut tersenyum, tapi matanya redup. “Iya. Tapi sekarang aku cuma pengen kamu tenang.”
Mereka duduk tanpa bicara cukup lama. Waktu berjalan pelan di bawah hujan. Dalam diam itu, Sinta bersandar — perlahan, ragu, tapi akhirnya menemukan tempat yang dulu selalu jadi rumahnya: pundak Jeffri.
Pundak itu masih sama. Hangat. Tegas. Aman.
Udara dingin malam tak lagi begitu menggigil.
“Mas…” suaranya hampir seperti bisikan.
“Hm?”
“Aku kangen.”
Jeffri tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, menatap jauh ke arah kebun yang kini tertutup kabut tipis.
“Aku juga,” katanya akhirnya.
Sinta menutup mata. Di antara bunyi hujan, ia mendengar detak jantung Jeffri. Lambat, tapi nyata. Seolah malam sedang memeluk mereka, membiarkan dua hati itu beristirahat dari keributan dunia.
Setelah beberapa saat, Sinta mengangkat kepala. “Kita ini apa, Mas?” tanyanya pelan.
Jeffri tersenyum samar. “Kita… mungkin cuma dua orang yang masih saling menjaga, meski sudah nggak punya alasan untuk memiliki.”
Kata-kata itu membuat dada Sinta sesak. Ia ingin menahan waktu di detik itu, di pundak itu, di malam itu yang menggigil tapi hangat di dada. Tapi waktu, seperti biasa, tetap berjalan.
Hujan mulai reda. Angin membawa sisa embun ke arah halaman. Jeffri berdiri, menatap langit yang mulai cerah.
“Sudah malam. Aku harus pulang.”
Sinta ikut berdiri. Jaket Jeffri masih menempel di pundaknya. “Aku antar sampai gerbang,” katanya.
Mereka berjalan beriringan, langkahnya lambat. Tak ada kata, hanya bunyi air menetes dari pepohonan. Di depan gerbang, Jeffri berhenti.
“Terima kasih sudah mau bertemu,” ujarnya.
Sinta menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih juga sudah datang.”
Jeffri mengangguk pelan, lalu berbalik. Langkahnya menjauh di antara kabut, sampai akhirnya hanya suara sepatu yang tersisa.
Sinta berdiri di sana cukup lama, memeluk jaket itu erat-erat. Masih ada sisa hangat dari pundak yang tadi jadi tempatnya bersandar.
Malam menggigil di sekelilingnya, tapi hatinya sudah tidak lagi sedingin tadi.
Ia menatap ke langit yang perlahan cerah, lalu berbisik pelan,
“Selamat malam, Mas… semoga pundakmu tetap hangat, di mana pun kamu berada.”
