Ketika Doa Berbau Tubuhmu

 

cerita birahi

Langit malam itu tenang, seperti baru saja menelan seluruh suara dari bumi. Tak ada bintang, hanya kabut tipis yang menggantung di atas genting. Sinta menatap langit itu dari jendela kamarnya, dalam diam, seolah menunggu sesuatu yang tak tahu kapan datangnya.

Di meja kecil di depannya, sehelai sajadah terhampar, di atasnya terbuka mushaf yang tak lagi baru. Jemarinya menyentuh lembarannya perlahan. Di setiap ayat yang ia baca, ada jeda — jeda di mana ia berhenti, menutup mata, dan menyebut nama yang masih tersimpan di dada: Jeffri.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak nama itu terakhir kali terdengar dari bibirnya dalam dunia nyata. Tapi dalam doa, nama itu tak pernah pergi. Ia hadir bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai aroma — lembut, samar, seperti wangi tubuh seseorang yang baru saja melewati ruang yang sama.

Sinta menunduk, menarik napas dalam-dalam.
Udara malam membawa dingin yang menggigit, tapi di balik kulitnya, ada kehangatan yang lain. Mungkin karena dalam setiap sujudnya, ada bayangan Jeffri yang tak sengaja ikut tertunduk.

“Aku tidak tahu apakah cinta ini salah,” bisiknya pada langit.
“Tapi setiap kali aku menyebut nama-Mu, Tuhan, mengapa bayangannya selalu datang bersamaan?”

Ia menatap tangannya sendiri — tangan yang dulu pernah dipegang Jeffri dengan cara yang sederhana, tanpa janji, tapi cukup untuk membuat dunia terasa tenang.

Sinta tak lagi tahu apakah ia merindukan sosoknya atau justru bagian dari dirinya yang hilang bersamaan dengan Jeffri. Namun setiap malam, ketika adzan Isya memudar di udara, hatinya kembali mencari. Mencari di antara bisik doa, di antara ruang yang sunyi.

Dan di tempat lain, di kota yang jauh, Jeffri juga sedang duduk di atas sajadah.
Lantai kamarnya dingin. Lampu kecil menyala di sudut ruangan, memberi cahaya lembut pada wajahnya yang lelah. Ia membaca doa dengan suara pelan, tapi suaranya bergetar. Di akhir setiap doa, ada nama yang tak pernah ia sebut dengan lantang — nama yang hanya bergetar di dada.

“Sinta…”

Ia tahu, itu bukan bagian dari doa. Tapi bagaimana cara mengusir nama yang telah menjadi bagian dari dirinya?
Ia mencoba memejamkan mata, tapi di balik kelopak itu, wajah Sinta muncul — seperti cahaya yang tak bisa padam.

Malam memanjang.
Di dua tempat yang berbeda, dua hati berdoa kepada Tuhan yang sama.
Mereka tak lagi saling menyapa, tapi kata-kata yang mereka ucapkan dalam hening terasa saling menjawab.

Jeffri membuka matanya, menatap ke langit.

“Kalau cinta ini bukan untuk dimiliki,” katanya pelan, “maka biarkan ia tetap hidup dalam doa. Karena hanya di sanalah aku bisa bersamamu tanpa menyakitimu.”

Sinta di sisi lain tersenyum kecil, seolah mendengar sesuatu.
Angin malam menyibak tirai, membuat helai rambut di pelipisnya menari lembut. Ia menutup mushaf, menatap langit-langit. Dalam sepi yang panjang itu, ia merasa seolah udara membawa sesuatu — aroma samar yang dulu pernah ia kenal.

“Tubuhmu,” bisiknya pada dirinya sendiri, “pernah menjadi rumah bagi rinduku. Kini yang tersisa hanya baunya di udara, dan itu pun sudah cukup.”

Ia sujud lama, sangat lama, hingga matanya basah.
Di antara butiran air mata dan udara yang beraroma tanah, doa-doanya naik — pelan, rapuh, tapi jujur.

Setelahnya, ia duduk kembali, menatap ruang kosong di depannya.
Ada damai yang aneh, seperti seseorang yang telah menemukan jalan pulang meski rumahnya sudah hilang.

“Mungkin begini caranya Tuhan menegur kita,” katanya dalam hati.
“Dengan mengubah cinta menjadi doa, dan mengubah rindu menjadi ibadah.”

Malam berganti dini hari.
Cahaya pertama menembus tirai, lembut, menyentuh wajah Sinta yang masih terpejam. Bibirnya bergerak pelan, melafalkan sesuatu yang bahkan tak butuh bahasa.

Di kejauhan, pada waktu yang sama, Jeffri juga masih berdoa.
Di antara bisikan tasbihnya, ada harap yang ia sembunyikan.
Bukan agar Sinta kembali, tapi agar ia tetap baik — agar rasa yang dulu bernama cinta itu kini menjadi berkah, bukan beban.

Waktu berjalan.
Hari-hari berganti, tahun-tahun berlalu.
Mereka tak pernah bertemu lagi, tapi setiap kali malam turun dan udara menjadi hening, keduanya akan tahu: ada doa yang saling bersilang di udara, membawa aroma yang sama.

Doa itu bukan lagi tentang memiliki, tapi tentang mengikhlaskan dengan lembut.
Karena cinta sejati, ternyata bukan yang menggenggam erat, melainkan yang tetap hidup meski dilepaskan.

Sinta menulis sesuatu di halaman terakhir mushafnya malam itu:

“Cinta sejati bukan yang menyentuh kulit, melainkan yang bertahan di antara jarak dan doa. Karena kadang, doa pun bisa berbau tubuh seseorang — dan itulah tanda bahwa rindu masih hidup.”

Ia menutup mushaf, meniup lembut debunya, lalu tersenyum.
Di luar, azan Subuh mulai terdengar.
Langit yang dulu kelam kini perlahan memucat, seolah turut bertasbih.

Sinta berdiri, melangkah ke arah jendela, dan membiarkan cahaya pertama pagi menyentuh wajahnya.
Udara terasa baru, tapi samar, ada wangi yang ia kenal di dalamnya.

Ia memejamkan mata.

“Selamat pagi, Jeff,” ucapnya pelan.

Tak ada yang menjawab, tapi hatinya tahu: di tempat lain, seseorang mungkin juga sedang menyebut namanya dalam doa yang sama.

Dan di antara dua hati yang saling terpisah,
Tuhan tersenyum — karena cinta mereka akhirnya menjadi suci.