Di Antara Cahaya dan Kulit
Hujan baru saja berhenti ketika Sinta menyalakan lampu kamar yang temaram. Cahaya kekuningan dari bohlam tua menimpa kulitnya yang lembut, menampakkan garis-garis lembayung di pipinya yang basah oleh sisa air wudhu. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangan sendiri yang tampak asing—antara dirinya yang dulu, dan dirinya yang kini terbelah antara rindu dan kehilangan.
Di atas ranjang, Jeffri masih tertidur. Tubuhnya dibalut kain putih tipis, napasnya berat dan pelan. Bau balsem dan udara lembab memenuhi ruangan itu, bercampur dengan aroma hujan yang baru saja masuk lewat jendela yang setengah terbuka.
“Kau tahu,” katanya lirih, nyaris seperti berbicara pada udara, “setiap kali cahaya jatuh ke kulitmu, aku takut waktu akan mengambilnya terlalu cepat…”
Jeffri tak menjawab. Tapi matanya terbuka sedikit, menatap Sinta dari sisi tempat tidur dengan senyum lemah—senyum yang dulu membuat pagi di rumah kecil itu selalu terasa hangat.
1. Cahaya yang Jatuh di Tubuhmu
Sinta duduk di sisi ranjang, tangannya menyentuh lembut lengan Jeffri yang kini lebih kurus dari sebelumnya.
Ia menatap kulit yang dulu berwarna sawo matang itu, kini pucat seperti kertas, seolah cahaya telah menyedot hidupnya sedikit demi sedikit.
“Masih sakit?” tanya Sinta, suaranya hampir tak terdengar.
Jeffri menatap langit-langit. “Tidak. Yang sakit cuma waktu. Karena dia terus berjalan tanpa aku bisa ikut.”
Sinta tersenyum getir. Ia tahu tubuh Jeffri makin melemah, penyakit yang mereka pikir bisa dilawan ternyata diam-diam menang. Namun, malam ini ia tidak ingin menangis. Ia hanya ingin memeluk sisa waktu—dalam cahaya sekecil apa pun yang masih tersisa di kulit Jeffri.
Ia mematikan lampu kamar, lalu menyalakan lilin kecil di meja.
Cahaya lembut itu menari di dinding, menciptakan bayangan dua tubuh yang saling mendekat perlahan.
Di antara cahaya dan kulit mereka, keheningan terasa seperti doa yang tak diucap.
2. Di Bawah Napas yang Saling Mencari
Jeffri menatap wajah Sinta lama sekali.
“Dulu aku takut kehilanganmu,” katanya pelan, “tapi sekarang aku lebih takut kalau aku pergi tanpa sempat bilang, terima kasih sudah membuat hidupku punya warna.”
Sinta menahan napas.
Matanya basah, tapi bibirnya tetap tersenyum.
“Kalau nanti kau tak bisa lihat cahaya lagi,” katanya lembut, “kau boleh jadi cahaya itu sendiri.”
Jeffri tertawa kecil, lalu batuk pelan. Ia menggenggam tangan Sinta, jemarinya dingin tapi masih hangat oleh kehadiran.
“Kau selalu tahu cara bicara yang membuatku tak ingin mati malam ini.”
Hujan turun lagi. Tipis, tapi cukup untuk mengiringi detak jantung yang mulai lemah.
Cahaya lilin bergoyang, menimpa kulit mereka yang saling menempel—hangat, lembut, rapuh.
Malam itu, mereka tak banyak bicara.
Hanya saling menyentuh, seolah ingin memastikan bahwa mereka masih nyata.
3. Cahaya yang Padam Perlahan
Waktu berjalan diam-diam.
Lilin tinggal setengah.
Sinta masih menggenggam tangan Jeffri yang kini mulai kehilangan daya. Tubuhnya terasa lebih ringan, napasnya makin tipis.
“Jangan tinggalkan aku malam ini,” Sinta berbisik.
Jeffri membuka matanya perlahan. Ada ketenangan yang aneh di sana—bukan kepasrahan, tapi penerimaan yang lembut.
Ia mengangkat tangan pelan, menyentuh wajah Sinta yang diterangi cahaya lilin.
“Kalau aku tak bisa bersamamu di bawah cahaya, aku akan jadi cahaya yang jatuh ke kulitmu.”
Sinta menunduk, mencium punggung tangannya.
Air matanya jatuh ke kulit Jeffri, membentuk titik kecil yang menyatu dengan keringat dingin.
Kemudian, keheningan benar-benar datang.
Suara hujan berhenti.
Cahaya lilin padam.
4. Setelah Semua Cahaya Pergi
Pagi datang dengan langit yang bening.
Rumah itu sepi. Hanya ada aroma melati dari vas di meja dan kain putih yang menutupi tubuh Jeffri yang telah tenang.
Sinta duduk di sampingnya, tanpa air mata. Tangannya mengusap pelan kulit Jeffri yang kini dingin.
Ia berbisik, “Kau sudah jadi cahaya, kan?”
Di sisi meja, sumbu lilin yang sudah mati tiba-tiba berasap lagi, meski tak ada api.
Sinta menatapnya lama, dan di permukaan kaca jendela ia melihat pantulan dua bayangan—dirinya dan Jeffri—berdiri berdampingan, dalam cahaya yang tak menyakitkan mata.
5. Kulit dan Cahaya Tak Pernah Berpisah
Bertahun-tahun kemudian, rumah itu tetap berdiri.
Sinta kini sudah menua, tapi setiap senja ia masih duduk di kamar yang sama, di bawah cahaya yang sama.
Ia menyalakan lilin kecil setiap kali hujan datang, dan selalu merasa ada yang memeluknya dari belakang.
Hangat. Nyata.
Seolah cahaya itu memang hidup di kulitnya.
Kadang, ia tersenyum tanpa sebab.
Karena ia tahu, Jeffri tak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berpindah wujud—dari tangan yang dulu menggenggamnya, menjadi cahaya yang kini menenangkan.
“Kau lihat, Jeff?” bisiknya setiap senja.
“Kau masih jatuh di kulitku.”
Akhir:
Cinta sejati bukan yang bertahan di waktu, tapi yang menetap di antara cahaya dan kulit—tempat di mana kehilangan menjadi bentuk lain dari keberadaan. 🌙✨
